Kamis, 01 Mei 2025

Jejak Langkah Buruh Media

Media massa beserta ragam konten program yang menyertainya telah menyatupadu dalam kehidupan masyarakat. Begitu kuat pengaruhnya, media menurut Antonio Gramsci merupakan intellectual organic yang menyebarkan pengaruh politik demi melanggengkan kuasa para penguasa. Dinamika perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh buruh media dalam lanskap industri yang terus berubah. Melalui analisis historis dan studi kasus kontemporer, mengkaji bagaimana perkembangan teknologi, perubahan model bisnis media, dan tekanan ekonomi memengaruhi kondisi kerja, hak-hak, dan kesejahteraan para pekerja media. Menyoroti adaptasi yang dilakukan oleh buruh media untuk mempertahankan eksistensi dan memperjuangkan kondisi kerja yang lebih layak di tengah arus perubahan yang deras.

Sejarah Buruh Media dan Digitalisasi

Konsep “buruh media” mulai terdengar ketika industri pers tumbuh pesat pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Saat itu, media cetak seperti surat kabar menjadi saluran utama penyebaran informasi. Di baliknya, ada banyak pekerja mulai dari jurnalis, tukang layout, teknisi cetak, hingga petugas distribusi yang bekerja keras dalam ritme industri. Mereka menjalani jam kerja panjang, digaji rendah, dan tak banyak mendapatkan perlindungan. Meski begitu, karena profesi di media sering dianggap sebagai pekerjaan "intelektual", mereka jarang dipandang sebagai buruh dalam arti yang umum. Media jadi industri besar memasuki paruh kedua abad ke-20, khususnya setelah Perang Dunia II, media mulai bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi besar. Perusahaan media tumbuh menjadi konglomerasi, dan kesenjangan antara pemilik modal dan para pekerja makin terasa. Di sinilah mulai muncul kesadaran kolektif di kalangan para pekerja media bahwa mereka adalah buruh—pekerja yang menjual tenaga dan kreativitas kepada industri, namun tak selalu menikmati hasilnya. Serikat pekerja seperti National Union of Journalists di Inggris dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Indonesia lahir dari kesadaran ini. Datangnya era digital dan perubahan besar ketika internet mulai berkembang pesat sejak akhir 1990-an, dunia media pun ikut bergeser. Digitalisasi mengubah cara kerja secara menyeluruh:

  1. Satu orang kini bisa mengerjakan banyak hal sekaligus menulis, mengambil gambar, mengedit, dan langsung mempublikasikan di media sosial.
  2. Pendapatan media dari iklan tradisional merosot tajam karena berpindah ke platform raksasa seperti Google dan Facebook.
  3. Banyak media konvensional terpaksa memangkas karyawan dan mengejar efisiensi tinggi.
  4. Sementara itu, muncul juga pekerja-pekerja baru di ranah digital: content creator, blogger, admin media sosial yang bekerja mandiri atau di bawah agensi, tapi sering tanpa kontrak kerja tetap, tanpa jaminan sosial, dan dibayar berdasarkan performa konten
Pengertian buruh media

Buruh media ialah sebutan untuk para pekerja yang terlibat dalam proses membuat dan menyebarkan informasi di dunia media. Mereka bisa saja jurnalis, editor, kamerawan, penulis naskah, desainer grafis, hingga content creator dan pengelola media sosial. Intinya, siapa pun yang mengerahkan tenaga, waktu, dan keahlian mereka untuk menghasilkan konten yang dikonsumsi publik baik dalam bentuk berita, hiburan, maupun informasi edukatif termasuk dalam kelompok ini.
Kata "buruh" umumnya mengacu pada pekerja yang menjual tenaga kepada pemilik modal dalam sistem ekonomi kapitalis. Dalam dunia media, istilah ini menunjukkan bahwa pekerja media juga merupakan bagian dari proses produksi industri mereka bukan pemilik, melainkan orang yang bekerja di balik layar untuk menciptakan konten. Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang tidak memiliki kendali atas hasil kerjanya sendiri, dan sering kali tidak mendapatkan perlindungan kerja yang layak, mulai dari upah, status kerja, hingga jaminan sosial. Meskipun banyak orang menganggap profesi seperti jurnalis atau penyiar sebagai pekerjaan yang prestisius, kenyataannya banyak dari mereka menghadapi kondisi kerja yang berat mulai dari jam kerja panjang, tekanan tinggi, hingga status kerja yang tidak tetap, seperti freelance atau kontrak jangka pendek.
 
Pelaku Buruh Media
Istilah ini mencakup berbagai profesi yang bekerja di bawah lembaga media, baik yang
bergerak di media konvensional maupun digital. Contohnya:

  1.  Jurnalis lapangan, editor berita, redaktur
  2.  Fotografer dan kamerawan
  3.  Editor video, desainer grafis, penata artistik
  4.  Penulis naskah, desainer konten digital
  5.  Social media manager dan pembuat konten profesional
  6.  Teknisi siaran dan operator alat produks
Mereka yang telah di sebutkan di atas merupakan pekerja media yang hidup dalam
ketidakpastian. Beberapa ciri yang sering muncul di lapangan:
  1. Status kerja tidak tetap, banyak dari mereka bekerja lepas atau kontrak pendek tanpa jaminan menjadi pegawai tetap.
  2.  Upah minim, pendapatan mereka sering tidak sebanding dengan beban kerja dan risiko yang harus dihadapi.
  3.  Tekanan kerja tinggi, tuntutan untuk terus update dengan berita dan cepat dalam produksi membuat mereka rentan kelelahan.
  4.  Kurangnya perlindungan hukum, serikat pekerja media masih belum merata, dan hukum ketenagakerjaan kerap tidak cukup melindungi mereka.
  5.  Eksploitasi di era digital, banyak pekerja digital harus memproduksi konten dengan cepat, menggunakan alat sendiri, dan sering tanpa bayaran yang memadai.
Tantangan Buruh Media di Era Digital
Digitalisasi memang membuka akses lebih luas bagi siapa saja untuk berkarya di dunia media. Tapi di sisi lain, muncul juga tekanan baru: keharusan untuk selalu cepat, produktif, dan bersaing dalam dunia yang makin tidak pasti. Banyak pekerja media digital yang harus bekerja dengan alat sendiri, tanpa dukungan redaksi, dan dibayar per tayangan atau per proyek. Kondisi ini dikenal sebagai bagian dari gig economy, yaitu sistem kerja yang fleksibel tapi tidak menjamin keamanan ekonomi jangka panjang. Pekerja media memegang peran penting dalam membentuk opini publik dan menyebarkan informasi yang memengaruhi kehidupan banyak orang. Tapi, di balik tanggung jawab besar itu, mereka sendiri sering tak punya kebebasan penuh dalam bekerja. Tekanan dari pemilik media, pengiklan, hingga kekuatan politik membuat mereka kerap menghadapi dilema antara idealisme jurnalistik dan kepentingan industri. Konflik ini bisa berujung pada sensor, tekanan untuk menyensor diri sendiri, bahkan pemecatan jika dianggap tidak sejalan dengan arah lembaga media tempat mereka bekerja. Di tengah tantangan tersebut, muncul gerakan dari para pekerja media untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Beberapa langkah nyata yang dilakukan antara lain:
  1. Mendirikan serikat pekerja seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
  2.  Mendorong kampanye untuk upah layak dan jam kerja manusiawi
  3.  Melawan praktik kerja eksploitatif di ruang redaksi maupun platform digital
  4.  Membangun solidaritas di antara sesama pekerja, terutama saat menghadapi intimidasi
atau kekerasan
 
Kesimpulan
Para pekerja media, dari jurnalis zaman dulu hingga content creator di era serba digital ini, terus beradaptasi seiring perubahan zaman. Gelombang digitalisasi membawa dampak besar: satu orang bisa mengerjakan banyak hal sekaligus, pendapatan media konvensional menyusut, dan makin banyak pekerja lepas yang kurang terlindungi haknya. Alhasil, mereka bergulat dengan pekerjaan yang tak menentu, upah yang seringkali kecil, tekanan kerja yang tinggi, minimnya perlindungan hukum, bahkan eksploitasi di dunia digital. Meski punya peran krusial dalam membentuk opini publik, seringkali posisi mereka rentan. Namun, semangat untuk memperjuangkan hak terus menyala melalui serikat pekerja dan berbagai aksi lainnya.
 
Referensi
Mariani, A. (2016). Mengungkap Budaya Konsumsi Media Buruh Perempuan lewat Perspektif Cultural Studies (Studi Etnografi pada Buruh Industri & Rumah Tangga di Malang). Jurnal Nomosleca 2 (1). -.
Ali, A. (2020). Tayangan Televisi: Akhlak dan Buruh Industri: Sebuah Tantangan dan Peluang Dakwah Islamiyah. Tasamuh: Jurnal Studi Islam 12 (1), 47-68. 

Penulis: Mujaidi (2230310020)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas masukan dan saran nya semoga informasi yang kami sajikan bermanfaat😊

Mix n Match ootd buat kamu !!

Sumber gambar : Google  Berikut ini beberapa   mix and match warna outfit (OOTD) yang cocok buat mahasiswa , biar tetap   stylish tapi nggak...